Selasa, 04 Desember 2012

Jiwa Nasionalisme Hatta Melalui Kebijakan Ekonomi Nasional adalah Ciri Pemimpin Ideal Bangsa


 
Oleh : Eneng Humaeroh

        Sebagai Mentri Koordinasi  Bidang Perekonomian dan Industri Hatta Rajasa  memiliki kepedualian yang sangat tinggi terhadap ekonomi kerakyatan, yakni untuk membangun ekonomi sekor ril yang dapat dinikmati rakyat kecil. hal ini dibuktikan dengan digulirkannya berbagai program nasional yakni program wirausaha bagi pemuda dan ekonomi menengah dan kecil.
        Program ini berjalan dengan baik dan mendapatkan sambutan yang  besar. Hatta mendorong setiap warga yang ingin menjadi pengusaha mengolah produksi-produksi lokal. Hatta dalam pemikiran besarnya mengatakan bahwa Negara ini akan maju dan kuat secara ekonomi jika pemuda dan warganya menjadi  pengusaha, bukan menjadi pekerja yang hanya diberi upah sesuai dengan jam kerjanya semata.
        Kebijakan ekonomi global Hatta yang lebih memberikan perlindungan kepada pengusaha lokal, seperti  pembatasan   terhadap investor asing yang ingin menguasai berbagai sektor seperti perbankan, penguasaan saham pertambangan  dan sektor lainnya perlu diacungi jempol. Karena dengan demikian Hatta memberikan peluang yang sangat besar kepada pengusaha atau pewirausaha untuk mengembangkan usahanya dengan leluasa. Kebijakan tersebut merupakan jiwa nasionalisme Hatta yang ditakuti para investor asing.
        Jika dibandingkan dengan kebijakan menteri perekonomian sebelumnya, tindakan seperti Hatta belum pernah dilakukan. Dengan alasan investasi, pemerintah memberikan keleluasaan dan kebebasan kepemilikan saham asing terhadap sektor-sektor perdagangan dalam negeri, sehingga pengusaha lokal kesulitan mendapat akses modal dan pemasaran. Tetapi Hatta membuat kebijakan yang berpihak kepada pengusaha lokal .
        Kebijakan-kebijakan Hatta tentunya sangat tepat  dan sikap itu perlu ditiru serta di ikuti dan didukung sepenuhya oleh masyarakat. Jiwa nasionalisme yang ditunjukan merupakan bukti bahwa seorang Hatta sangat memperhatikan masyarakat kecil, terutama yang ingin berwirausaha dengan modal kecil.
        Hatta juga mengatakan bahwa wirausaha kecil lah yang telah menyelamatkan perekonomian bangsa Indonesia, karena menurutnya jiwa wirausaha adalah jiwa yang kuat dan pantang menyerah, dimana seseorang harus hidup menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari hidup kekurangan.
        Masyarakat  yang ingin maju secara ekonomi  melalui kegiatan wirausaha mendapat perhatian yang besar dari Hatta. Sikap ini jarang dimiliki oleh pejabat setingkat mentri, tetapi Hatta menunjukan bahwa kekuatan yang terbesar adalah berasal dari masyarakat kelas menengah dan bawah.  Masyarakat kecillah yang menjadikan Negara ini tetap ada, masyarakat kecil yang tetap menopang kehidupan di negeri ini tetap berjalan dan bertahan ditengah himpitan krisis ekonomi dunia.
        Kebijakan Hatta ternyata membuat rasa was-was bagi pengusaha asing karena  kebijakan Hatta membatasi kepemilikan bagi asing. Itulah salah satu jiwa nasionalisme Hatta yang ditunjukannya melalui kapasitasnya sebagai Menteri Koordinasi Bidang Perkonomian dan Industri.

Harapan Rakyat terhadap Pemimpin
        Masyarakat sangat membutuhkan figure seorang pemimpian yang memiliki jiwa nasionalisme, perhatian terhadap rakyatnya serta membela kepentingan rakyat. Indonesia  di bangun oleh sebagian besar masyarakat kelas menengah ke bawah, jika pemimpin memperhatikan rakyatnya maka rakyat akan mencintai pemimpinnya. Kecintaan rakyat terhadap pemimpinnya akan tumbuh.  Pemimpin yang mencintai rakyatnya harus ditunjukan oleh suatu sikap yang dekat antara pemimpin dengan rakyatnya, sikap yang mengayomi serta memahami kebutuhan rakya tnya.
        Rakyat sebenarnya merasa telah banyak dikhianati oleh para pemimpinnya. Banyak  kebijakan yag dibuat oleh para pemimpin tidak membela kepentingan rakyat sehingga rakyat merasa jenuh dengan pemimpinnya sendiri. Hal ini tentu menggugah Hatta Rajasa untuk melakukan sesuatu hal yang berbalik, yakni memberikan perhatian dan membela kepentingan rakyat. Salah satu pembuktian bahwa Hatta peduli dengan rakyatnya adalah melakukan proteksi ekonomi, dengan membatasi kepemilikan asing terhadap sektor-sektor perekonomian yang penting,  dengan begitu maka penguasaha kecil akan dapat bernafas dan terus bertahan bahkan menjalani roda perekonomian sehingga mampu  menopang dan menghidupi seluruh rakyat.
        Hatta tampil sebagai calon pemimpin dengan kelayakan dan kebijakan yang berpihak kepada rakyatnya, hal itu membuat ciut nyali para calon investor asing yang ingin  mengusai sektor-sektor penting di negeri ini. Proteksi terhadap ekonomi nasional merupakan gaya Hatta untuk melindungi pengusaha lokal dan kecil.
        Hal yang perlu diketahui oleh masyarakat adalah kebijakan dan perjuangan pemimpin untuk rakyatnya, yang membela serta memberikan kesempatan rakyat untuk berkiprah, mengerahkan seluruh potensi ekonomi agar terus mampu hidup serta meningkatkan fasilitas kehidupan dirinya dan keluarga.
        Keluarga sejahtera perlu ditopang oleh ekonomi kelauarga yang kuat. Hal itulah pemikiran Hatta, bahwa dengan kuatnya keluarga-keluarga Indonesia secara ekonomi maka Indonesia akan mejadi Negara maju di Asia. Jika tidak maka Negara ini akan ambruk dengan sendirinya, karena masyarakatnya tidak kuat secara ekonomi.
        Pemikiran Hatta yang baik tersebut harus diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat bahwa dengan kekuatan dan potensi masyarakat kecil Hatta memberikan kenyakinkan bahwa kita akan pergi meninggalkan kemiskinan, meninggalkan kekuarangan dan meninggalkan kesengsaraan ekonomi yang selama ini menggerogoti bangsa. Pesan Hatta seperti ini selayaknya mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat, agar bersama-sama membangun Negara dengan cara mengembangkan ekonomi kecil dan menengah sebagai penopang perekonomian nasional.
        Apabila pemikiran dan jiwa nasionalisme Hatta melalui kebijakan ekonomi diketahui khalayak, apakah  masyarakat masih belum percaya bahwa  masyarakat masih memiliki figure yang pantas sebagai pemimpin bangsa?.  Masyarakat bersama-sama pemimpinnya  membangun Negara melalui ekonomi kerakyatan untuk kesejahteraan rakyat pula.  
        Hatta mengajak seluruh masyarakat untuk membangun kekuatan ekonomi dengan menggali potensi-potensi daerah serta meningkatkan kemampuan jiwa wirausaha agar tidak bergantung kepada sempitnya lowongan pekerjaan. Ajakan Hatta ini tentunya peluang yang besar bagi masyarakat, agar semua orang memiliki kontribusi kepada Negara yang kita cintai dan tidak berpangku tangan semata.

Hatta, Figure Pemimpin yang Sesuai dengan Ajaran Islam
        Kerinduan masyarakat terhadap figure pemimpin yang ideal, yang memiliki kecintaan dan berpihak kepada rakyat tentunya akan segera terealisasi.  Hal itu apabila seluruh masyarakat menerima informasi bahwa seorang anak bangsa kelahiran Palembang, sumatera  Selatan, 18 Desember 1953 memiliki karakter yang kuat sebagai pemimpin. Kebijakan-kebijakannya bukan semata-mata karena kepentingan politik tetapi merupakan wujud kasih sayang dan kecintaannya kepada rakyat kecil.
        Hatta membuktikan dirinya bahwa ia layak menjadi seorang pemimpin di Negara ini, ini dapat kita lihat karakternya dalam kacamata ajaran Islam yang memberikan syarat mutlak seorang pemimpin yakni ;
1.       Menggunakan Hukum Allah
Hatta adalah seorang religius agamis. Hal itu dibuktikan dengan kepeduliannya terhadap  sarana-sarana peribadatan umat Islam yang kini sedang digulirkannya program perbaikan seribu mesjid di Jawa Barat
2.        Tidak meminta-minta jabatan.
 Walaupun Hatta memiliki kedekatan dengan Presiden tetapi Hatta tidak memanfaatkannya demi kekuasaan  dan  anti KKN. Sebagai masa hadits Rasulullah SAW, "Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin". (HR Al Hakim).
3.       Memiliki kecerdasan dan kemampuan
Jabatan Hatta sebagai menkoekuin diperoleh karena ia  memiliki  kemampuan yang layak, serta sikap yang  amanah, ikhlas, memiliki keunggulan dari kompetitornya dan kebijakan yang membela rakyat. Sikap seperti ini persis yang dicontohkan Nabi Yusuf dalam QS : Yusuf ayat 55, yang artinya : "Jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan".
4.       Professional dan tepat sasaran
Profesionalitas Hatta sangat diperhitungkan bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga oleh luar negeri. pengamat politik  Kevin O Rourke seperti yang diberitakan Ruteurs, selasa (29/5)  mengatakan bahwa  kebijakan ekonomi Hatta berada pada arah proteksionisme, restriksi dan pembatasan kepemilikan.  Hatta bekerja dengan professional karena mampu menciptakan  koordinasi yang mulus dan memiliki kendali pada energy, perdagangan dan pertanian. Sikap Hatta tersebut tercermin dalam hadits  Nabi; "Sesungguhnya Allah sangat senang pada pekerjaan salah seorang di antara kalian jika dilakukan dengan profesional" (HR : Baihaqi)
5.       Membuka peluang ekonomi dan mengasah potensi rakyat
Seorang pemimpin harus mampu mendeteksi kemampuan  dan potensi  yang dimiliki rakyatnya, selain itu mampu memberikan motivasi  untuk terus berprestasi. Sikap ini ditunjukan melalui program nasional wirausaha. Program ini mampu mengasah dan menghantarkan masyarakat menjadi pengusaha ulung. Menggali potensi-potensi lokal yang belum digarap dengan benar. pembangunan karakter pengusaha agar masyarakat mampu berdiri sendiri melalui jiwa wirausaha. Namun perlu diketahui jiwa wirausaha bukan terbatas kepada perdagangan melainkan inovasi dan pengembangan diri sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Itulah yang didorong seorang Hatta kepada masyarakatnya.

        Karakter Hatta yang tercermin pada sikap dan kebijakannya telah mengobati kerinduan masyarakat akan hadirnya pemimpin ideal di masa yang akan datang, pemimpin yang peduli dan mencintai rakyatnya, pemimpin yang mampu menghantarkan rakyatnya menjadi sejahtera, pemimpin yang akan selalu dirindukan rakyat. Firman Allah SWT  Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin  yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.(QS. Al-Anbiya’: 73). (Raja/Eneng Humaeroh)

Selasa, 02 Oktober 2012

KISAH SEDIH PADA SUATU SORE



Ilham tertunduk lesu, kepala sekolah sangat marah, wajahnya merah bagai kepiting rebus, dengan gusar kepala sekolah berkata, “ mulai hari ini kamu di keluarkan dari sekolah……!!!” BRakkkk….. kepala sekolah memukul meja sampai Ilham tersentak kaget, sekejap kemudian kepala sekolah berlalu  dengan lengan dikepal.
Ilham tak mampu lagi berkata apa-apa, tertunduk dan lemas, sekujur tubuhnya bergetar, marah dan kesal bercampur menjadi satu, mengapa ia harus dikeluarkan dari sekolah itu…….??
“ baik…. memang aku tidak perlu sekolah… sekolah hanya memenjarakan diriku, memenjarakan kebebasanku, sekolah menghalangi kesenanganku…..apa yang salah kalau aku suka berantem, suka bolos, suka menonton video porno… apa yang salah??? Toh semua orang juga melakukan hal yang sama, tidak siswa, guru, karyawan, mahasiswa, pejabat atau ustad-ustadpun begitu. Lalu kenapa kepala sekolah tidak adil kepadaku?? Mengapa larangan itu hanya berlaku kepadaku…..???” tubuhnya gemetar menahan amarah atas ketidak adilan itu.
Ilham…. Siswa kelas XII, memang melalui hari-harinya penuh dengan siksaan, lahir maupun bathin. Ibunya pergi dengan laki-laki lain karena ayah Ilham tidak mampu memberikan kehidupan yang layak baginya, Ilham diasuh sendiri oleh ayahnya, namun Ilham tidak pernah merasakan kasih sayang, yang ia tahu setiap hari harus menerima pukulan, setiap kegiatan diawali dengan pukulan. Setiap hari….. bahkan hendak pergi tidurpun Ilham harus menerima pukulan sebagai ucapan selamat malam dari sang ayah.
***
Sukardi…. Ayah Ilham bukan lelaki yang malas, setiap hari bekerja sebagai tukang parkir, sekali-sekali menjambret ibu-ibu yang lengah dalam perjalanan, atau sekali-sekali menjadi kurir narkoba. Bukan Sukardi tidak tau pekerjaannya itu tidak baik, namun apa yang harus dikerjakan seorang mantan narapidana???  Sukardi membunuh dan melakukan perampokan, dan 10 tahun penjara sebagai tempat tinggal sukardi. Tindakan criminal Sukardi sebagai bentuk protes kepada dunia, karena dunia tidak adil baginya. Istri yang sangat dicintainya pergi dengan lelaki lain dan ia harus hidup hanya bersama Ilham, anaknya lelakinya.  
Sukardi, mantan atlet karate, sewaktu muda berbagai pretasi diraih, piala,piagam dan  medali dikumpulkannya dalam lemari, dan sampai kini masih disimpannya meskipun semua itu tidak memberikan kehidupan yang layak, dengan setia Sukardi menyimpannya di dalam lemari butut.
Kekecewaan demi kekecewaan dirasakannya, apa yang dilakukannya selalu menjadi masalah dirinya dengan para tetangga, hubungan yang tidak baik dengan orang lain membuatnya sangat tertekan, hidupnya sudah penuh dengan noda dan dosa, bahkan irisan waktu baginya hanyalah bongkahan waktu yang akan menggulungnya dengan kematian perlahan. Menyakitkan dan sungguh berat meniti hari-hari kelabu, tanpa harapan yang jelas, tanpa rona-rona kebahagiaan tanpa rasa damai.
Sukardi menyadari dirinya bukan orang baik, ia juga sadar bahwa orang-orang takut bahkan benci padanya, dan Sukardi tidak peduli semua itu. Hanya satu yang selalu diungkapkannya dalam do’a tak sengaja, ia tidak ingin anaknya seperti dirinya. Ia sering mengatakan kepada dirinya bahwa ia sangat menyayangi Ilham anak semata wayang. Ya…. Ia bertahan hidup hanya demi Ilham…. Tapi sungguh amat kecewa Ilham tidak mampu menjadi orang yang ia harapkan, setiap hari berantem, malak, mabuk, nilai raportnya selalu merah. Bahkan berkali-kali ia mendapatkan surat teguran dari sekolah tentang prilaku anaknya. Ya Tuhan…… apakah anakku akan mewarisi semua kelakuanku…? Apakah anakku akan menjadi narapidana juga?? Bagaimana aku harus mengatakannya pada Ilham bahwa aku tidak mau dia seperti aku, tapi kenyataan hari ini…. Nyaris Ilham akan menjadi seperti diriku… ya Tuhan… mengapa Engkau tidak adil kepadaku… Sukardi tak mampu menahan genang airmatanya…..rambut yang kusut ia sibakkan, tangannya yang dekil mengusap perlahan airmata. Pandangannya nanar… ia tak melihat apa-apalagi dihadapnnya, hanya sebuah sinar putih menyilaukan, matanya tak sanggup menahan rasa silau itu. Surat  pemecatan sekolah Ilham digenggam erat, seolah tak ingin melepaskannya………... brukkk…. Secepat kilat tubuh Sukardi ambruk… darah berceceran, Sukardi memegang kepalanya, pusing… samar-samar ia hanya melihat bayangan…….hitam dan kemudian gelap…..
***
Ilham duduk terpaku dihadapan ayahnya, ia tak mampu berkata sepatahpun…. Ia hanya menatap tajam ayahnya, gendang telinganya seakan robek seketika mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Sukardi.
“ Nak….. ayah hanya ingin melihat kau sekolah…. Sampai lulus SMA, cuma itu. Ayah tahu kau tak pernah punya prestasi, tapi kau pandai berkelahi…. Ayah mohon kembangkanlah ilmu bela dirimu……” sukardi berhenti sesaat, menghela nafas karena terasa begitu berat udara yang masuk ke rongga dadanya. Kemudian Sukardi melanjutkan amanahnya.
“ Nak… ayah adalah mantan narapidana, ayah tidak ingin engkau seperti ayah….. tolong penuhi permintaan ayah…. Carilah sekolah, engkau harus sekolah… sampai tamat SMA saja… tidak lebih dari itu….. ” Sukardi berhenti bicara, air matanya tak mampu lagi ditahan, mengalir deras. Tangannya berusaha meraih tangan Ilham, dalam genggamannya Sukardi berkata “ Nak….. ayah sekarat…..tidak akan lama lagi ayah akan mati, satu hal yang harus kau tahu ayah sangat sayang kepadamu…..ayah akan bertahan sampai datangnya kematian ini…. hanya dengan satu syarat… kamu cari sekolah dan bawa kepala sekolah kepada ayah… karena ayah akan menitipkan kamu, agar kamu bisa lulus dari SMA…” genggaman tangan Sukardi begitu erat, rasa damai tiba-tiba lham rasakan, aneh… seumur hidup ayah tidak pernah menggenggam tangannya, apalagi berkata dengan lembut. Tangan ayah selalu memukulnya, mulut ayah selalu memakinya…. Dan Ilham benci dengan ayah, tapi hari ini ayah sangat berbeda, tatapannya penuh dengan kehangatan, menggenggam tangannya begitu erat seakan sedang menunjukan kepada dunia kalau ia adalah ayah yang sangat menyayanginya. Rasa bahagia menyeruak dalam kalbu.
“baik ayah…. Aku akan cari sekolah, dan membawa kepala sekolah kepada ayah, agar ayah menitipkan aku, agar aku lulus sekolah SMA…” hatinya miris, miris sekali…. Pikirannya menerawang jauh… kemana ia mencari sekolah…?? Ia sudah di black list…. Banyak kasus yang menjeratnya, bolak-balik BP bahkan kantor polisi. Tawuran, kenakalan, narkoba, video porno bahkan kasus criminal pencurian bermotor. Ya Tuhan….. apakah ada satu saja sekolah yang akan menerimaku sebagai siswa…?? Hatinya begitu perih, sedih, marah dan entah prasaan apalagi yang dirasakannya.
***
Ilham merasakan kakinya amat sakit, pegal karena terus berjalan…… dari sekolah ke sekolah, mencari sekolah yang bersedia menerima dirinya. Bukan hal yang mudah karena semua sekolah sudah mengetahui background dirinya, semua sudah memblack list. Seperti hari itu ratusan sekolah ia masuki dan ratusan sekolah itu menolaknya.
Ilham berdiri di pintu kepala sekolah SMA Nusantara, bu Annida, ia begitu bimbang hatinya sangat sedih SMA Nusantara adalah sekolah yang ke-101 yang menolaknya. Tapi ia sungguh ia bingung apa yang harus dilakukannya??? Ayah sedang sekarat di Rumah Sakit dan hanya itu permintaannnya Ya Tuhaann…… tolong aku…. Ilham menjerit dalam hati. Ia termenung sekejap kemudian ia membalikan tubuhnya, mengetuk kembali ruangan Bu Annida, tanpa menunggu jawaban Ilham menerobos masuk…… berdiri dihadapan Bu Annida, wajah kepala sekolah itu terlihat marah dengan tindakan Ilham, sambil mengacungkan jari telunjuk kepala sekolah berkata,
“ Hei…. Anak tidak tahu diri…. tidak punya kesopanan ….. !!! siapa yang menyuruhmu masuk ruanganku hah…..!!!!”
“Bu……. Saya mohoooon….. tolong saya… ibu berkenan bertemu ayah saya, dan mengatakan bahwa saya sekolah disini, bu…. Hanya pura-pura saja…. Saya tidak akan memaksa untuk sekolah jika ibu meolak saya menjadi siswa disini…. Demi Tuhan bu… saya hanya minya tolong, ibu temui ayah saya… hanya sekaliii saja buuu…. Ayah sedang sekarat….” Ilham memohon, berlutut di hadapan Bu Annida, wajahnya menyiratkan permohonan yang sangat, penuh dengan kejujuran, ketakutan dan rasa cemas….. Bu Annida memandang tak berkedip, bimbang…. Sebagai professional ia tak mungkin berbohong, tak mungkin melakukan perbuatan bodoh seperti itu. Namun sebagai manusia Bu Annida merasa kasian kepada Ilham. Dengan berat ia mengangguk tanda setuju, “Namun dengan syarat saya hanya menemui ayahmu dan tidak berkata apa-apa, karena saya tidak mungkin berbohong…….” Ilham sangat berterimakasih, ia mencium tangan Bu Annida sebagai tanda rasa syukur atas kesediaan Bu Annida.  
***
“ Terimakasih…. Bu Annida sudah menerima anak saya, sehingga Ilham bisa sekolah lagi…. Saya titip anak saya, bimbing dia menjadi anak yang berprestasi, menjadi anak yang baik…. Jangan seperti saya, mantan narapidana…. Bu Annida…. Saya titip, dan mohon bimbing dia, saya sekarat….. sebentar lagi kematian akan menghampiri saya…..” Sukardi berhenti sesaat, Bu Annida mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba memahami perasaan Sukardi, sungguh ia tak mampu berkata, berkata bohong, bahwa sebenarnya ia tidak menerima Ilham sebagai murid di sekolahnya, ia hanya memenuhi permintaan Ilham menemui ayahnya karena sekarat….. Bu Annida menyembunyikan perasaan sedihnya, dibalik kacamata tebalnya.
“ Ilham…. Ayah berpesan… belajarlah yang rajin…. Ayah tau kamu tidak akan menjadi juara kelas…. Tapi kamu punya ilmu beladiri…. Jangan sia-siakan kemampuanmu, ayah sayang sama kamu…..” matanya berkaca-kaca, hatinya merasa amat pilu, sedih tak tertahankan…. Ia tahu anaknya berbohong dengan membawa kepala sekolah kehadapannya, ia tahu  Ilham hanya melakukan permintaannya bertemu kepala sekolah, ia juga tahu kalau Ilham tidak mungkin diterima sekolah manapun… ia tahu itu semua itu… tapi Sukardi menyembunyikan rasa sedihnya itu, menekan dan menyimpannya disisa umur yang hanya beberapa detik lagi. Ia tidak ingin menyakiti hati anaknya, meskipun ia tahu Ilham berbohong……
Sukardi menggapai lengan Ilham digenggamnya erat….. menatap bola mata Ilhman dengan lembut, seraya berkata, “ Nak ayah akan mati saat ini juga….. tapi kematian yang sangat membahagiakan karena kau telah memenuhi permintaan ayah, yaitu sekolah……..”  Sukardi memejamkan mata perlahan, menyungging senyum tanda bahagia Ilham bisa sekolah……..
Ilham tak kuasa, airmata mengalir deras bak banjir bandang…….. tertunduk, sekujur tubuhnya bergetar…. Tuhan,,,, apa yang harus aku lakukan…? Atas kebohonganku kepada ayah? Ilham menjerit memanggil Tuhannya……
***
Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan Graha Pancasila, hari itu….. sebuah medali emas disematkan dileher Ilham, kejuaraan karateka. Kelas Katak diraih dengan sempurna. Wajah Ilham berseri menahan perasaan bahagia dan sedih yang bercampur. Sejak kematian ayahnya ia bekerja keras, berlatih setiap hari, tiada hari tanpa dilaluinya dengan latihan, sangat keras, Bu Annida memberinya kesempatan untuk belajar di sekolah, sebagai tebusan atas perbuatan bohongnya kepada Sukardi. Ilham akan sangat malu jika menyia-nyiakan kesempatan itu, diatas pusara ayahnya Ilham berjanji mengembangkan ilmu beladirinya, dan lulus dari SMA….
***
“Ayah….. aku datang sebagai anak ayah… yang ayah sayangi, dan hari ini aku menjadi seperti yang kau inginkan…..berprestasi dan sekolah” . perasaannya begitu mendalam, haru, bahagia dan sedih. “Ayah tidak akan pernah melihatku sebagai anak yang berprestasi dan lulus sekolah”
“ayah… aku sayang ayah……” pusara itu dipeluknya, Bu Annida menyentuh pundak Ilham dengan perlahan. Sejenak Ilham memandang Bu Annida, yang kini menjadi ibunya atau ia anggap sebagai ibunya.
Tanah pekuburan, semakin hening….. aroma tanah merah menyengat, bunga kemboja jatuh di atas pusara, suasana senyap, dedaunan ditiup semilir angin seolah tanda belasungkawa atas kesedihan Ilham, kesedian yang kini tidak lagi lengkap karena sebongkah bahagia menyeruak di dalam dada, sesal tiada berguna, tangisan hanya sebagai teman kala ingat masa lalu……tapi hari ini, esok dan lusa segera diukir dengan sejuta cita-cita sebagai anak bangsa….anak ayah, seorang lelaki dan lulus SMA….
***
Aku mengusap titik air mata dibalik kacamata minus yang kukenakan, Putri menutup cerita. Tampak pula ia berkaca-kaca, dan berkata, “ Mah….. bukankah sangat sedih ketika kita menunjukan suatu keberhasilan, tapi orang yang kita sayangi tidak pernah melihatnya..?”
Aku mengangguk, mengusap kepalanya dengan perlahan. Putri mengaduk-aduk mie bakso yang tak kunjung habis karena terpotong cerita ‘Ilham’. Motivasi yang sangat mahal, ungkapnya.
“Ya… motivasi yang sangat mahal…. Jadikan Ilham sebagai motivasi, karena waktu tidak pernah kembali…. Kebahagiaan adalah menunjukan keberhasilan kepada orang-orang yang kita sayangi, dan kebahagiaan orang tua adalah menghantarkan anak-anaknya menjadi anak yang berprestasi, dan menjadi baik”.
Putri memelukku seraya mengambil BB, “kita foto dulu yukkk……” jeprat, jepret…… beberapa foto kami berdua diambilnya sendiri, dan seterusnya ku upload sebagai ungkapan kerinduan kepada sang buah hati.
Waktu memang tak pernah bisa kembali, seperti sore itu pukul 17.15 wib sudah  tanpa terasa, dan aku harus pulang meninggalkannya kembali di asrama, dia belajar lagi untuk bekal masa depannya.
Lambaian tangannya masih kurasakan hingga tulisan ini selesai, inspirasi sering kudapatkan darinya, yah…. Anak memang penuh dengan jutaan cerita, dan jutaan cerita mengalir dari mereka, anak-anak kita, buah hati kita……………. Anak, sebuah masa depan.

Serang, Banten, 1 Oktober 2012

Minggu, 02 September 2012


Eneng Humaeroh
Kelas               : Filsafat
Semester        : 3
Lecture           : Dr. Kholid al Walid
The Islamic College Jakarta
2010

RESUME TENTANG JIWA

Jiwa menurut Ar Razi
Manusia kedudukannya berbeda dengan mahkluk yang lain, jiwa manusia memiliki korelasi dengan tubuh. Substansi jiwa itu tunggal yang terpisah dengan tubuh, jiwa mempengaruhi tubuh  sehingga jiwa memiliki nafsu amarah sehingga atribut tubuh adalah pribadi tunggal.
Substansi jiwa menurut Ar Razi bahwa jiwa selain memiliki struktur indrawi eksternal ia adalah tunggal yang terdiri atas entitas , esensi dan realitas.
Jiwa memiliki nafsu, Ar Razi memberikan argument bahwa :
-          tubuh adalah substansi yang berkembang membutuhkan nutrisi, tubuh mengalami reduksi dan emaciation.
-          Jiwa mengalami perubahan  sebagaimana tubuh dan berkembang
-          Jiwa menerima bentuk dan suksesi, tetap dan tidak mengalami perubahan, jiwa memiliki kemampuan menerima bentuk yang lain  padatubuh hal itu termenifestasi  pada tubuh manusia yang memiliki kemampuan yang ditunjukan dengan pemahaman atau kemampuan sehingga jiwa lebih kuat.
-          Jiwa menciptakan dunia potensial menuju dunia actual, menciptakan persepsi dan komprhensi
-          Jiwa mendominasi atas tubuh dan menampilkan emasiasi
Eksistensi manusia bila dibandingkan dengan makhluk yang lain, hal ini berdasarkan argument :
-          Manusia dalam eksistensinya adalah jenis yang memiliki kapasitas berfikir dengan intelek dan juga hikmah, juga  memiliki sifat dasar  dan syahwat.
-          Ketika manusia telah mampu mengatasi kesulitan atau kegelapan  manusia alkan mencapai  harapan menuju cahaya, manusia akan mampu merasakan kenikmatan yang sangat berbeda degan kenikmatan yang terlihat dan terdengar sebelumnya.
-          Capaian manusia pada tahap kerinduan  untuk mendatangi Allah harus menempuh jarak dan mengerahkan  kekuatan yang besar untuk  meninggalkan keadaan semula, sehingga mampu merasakan  penderitaan dan kebahagiaan pada tahap  yang dibutuhkan.
-          Manusia berbeda dengan malaikat, karena pada diri manusian terdapat keinginan yakni kemampuan pengetahuan Illahi dalam mencapai tingkatan ma’rifat (Gnostic).
-          Jiwa manusia memiliki kecenderungan kepada kebahagiaan spiritual
-          Manusia memiliki kemampuan menunjukan keadaan yang saling bertentangan, suatu eksistensi yang dominan dan hikmah yang tidak terbatas.
-          Manusia memiliki otoritas dan kekuasaan atas nilai temporal pada suatu batasan, tetapi keinginan manusia mendapatkan kekuasaan atas intelek, pengetahuan  adalah suatu kenikmatan yang tidak terbatas
-          Prilaku manusia yang berderajat tidak dibuktikan dengan kesenangan jasmaniah melainkan pada keluhuran budi pekerti dan intelektual yang tinggi

Jiwa menurut Ibnu sina
Pemkiran  tentang jiwa berangkat dari pemikiran tentang Tuhan kemudian timbul akal  - akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa - jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul di langit. Jiwa manusia sebagaimana jiwa - jiwa lain dan segala apa yang terdapat di bawah Bulan, memancar dari akal ke sepuluh.
Segi - segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi yaitu :
1.    Segi fisika  (jiwa tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan - kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain - lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya.
2.   Segi metafisika (wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa)
Jiwa menurut Ibnu Sina ada tiga bahagian :
a.      Jiwa tumbuh – tumbuhan (nutrition, tumbuh dan berkembang biak)
b.      Jiwa binatang  (gerak, menangkap, indera, representasi, imaginasi, estimasi, rekoleksi)
c.    Jiwa manusia (Akal materiil,  Intelectual in habits, Akal actuil, Akal mustafad)
Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh - tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya.   
  Jiwa  manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Sungguh pun jiwa manusia tidak mempunyai fungsi - fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berfikir, jiwa masih berhajat pada badan karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berfikir.

Jiwa menurut Al-Kindi
Al-Kindi menyampaikan gagasan akal teoritis kepada daya penggerak, jiwa itu sederhana tidak tersusun atau basithah, mulia, sempurna dan penting. Sebtansinya (jauhar) berasal dari subtansi Tuhan, seperti sinar berasal dari matahari. Jiwa mempunyai wujud tersendiri dan lain dari badan. Sebagai bukti ini Al-Kindi mengemukakan bahwa kenyataan jiwa menentang keinginan nafsu yang berorientasi bagi kepentingan badan. Jika perlu sesuatu waktu marah mendorong  manusia untuk berbuat sesuatu, maka jiwa akan melarang dan mengontrolnya, seperti penunggang kuda yang hendak menerjang terjang. Jika nafsu syahwat muncul kepermukaan, maka jika akan berpikir bahwa ajakan syahwat itu salah dan membawa pada keerendahan, pada saat itu jiwa akan menentang dan melarangnya. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa itu lain dari nafsu yang dimiliki badan.
Menurut Al-Kindi  jiwa manusia itu memmpunyai tiga daya, yaitu daya berpikir (al-quwwah al-‘aqliyah), daya marah (al-quwwah al-ghadhabiyah), dan daya syahwat *al-quwwah al-syahwaniyah). Daya berpikir itu disebut akal.
Akal terdiri dati tiga tingkat :
·          Akal yang masih bersifat potensial (al-quwwah)
·          Akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi akatual (Al-Fi’I)
·          Akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas (al-‘ql al-tsany)
Akal yang bersifat potensial tidak akan menjadi actual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar, yang mempunyai wujud tersendiri di luar jiwa manusia. Akal tersebut adalah akal yang selamanya aktualis (al-‘aql al-ladzi bi al-fi’I abadan), dan ini memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
·          Ia merupakan Akal Pertama
·          Ia selamanya dalam aktualitas
·          merupakan species dan genus
·          Ia membuat akal potensial menjadi aktual berpikir
·          Ia tidak sama dengan akal potensial tetapi lain dari padanya.
Jiwa itu kekal dan tidak hancur bersama hancurnya badan. Jiwa tidak hancur karena subtansinya dari Tuhan. Ketika jiwa berada dalam badan, ia tidak boleh kesenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak sempurna. Baru setelah ia berpisah dengan badan, ia akan memperoleh kesenangan yang sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna. Setelah berpisah dengan badan, jiwa pergi ke Alam Kebenaran atau Alam Akal (al-‘alam a- haq, al-‘alam al-aql) didalam lingkungan cahaya Tuhan, dekat dengan Tuhan dan dapat melihat Tuhan. Tempat inilah kebahagiaan abadi yang akan dirasakan pleh jiwa yang suci.

Jiwa yang tidak suci, setelah berpisah dengan badan, ia tidak akan langsung masuk ke Alam kekal, tetapi ia akan mengembara untuk jangka waktu tertentu untuk membersihkan diri. Mula-mula jiwa bermukim di Bulan, kemudian di Mercuri dan terus ke Falak yang lebih tinggi lagi guna pembersihannya setahap demi setahap. Setelah jiwa benar-benar bersih, jiwa itu baru memasuki Alam Kebenaran atau Alam Kekal.

Jiwa menurut Mulla Sadra
Jiwa menurut Mulla Sadra merupakan gambaran dari “Substansi yang secara zatnya non-materi akan tetapi terikat dengan materi dalam aktivitasnya”
Mulla Sadra memberikan bukti bagi keberadaan jiwa dengan mengemukakan tiga bentuk argumentasi ;
a.      Wujud mumkin  (Imkan al-Asryaf wa ‘Adam Abatsiah Khalq al-Mumkinat).
Argumentasi Mulla Sadra  ingin menunjukkan bahwa Allah SWT ketika menciptakan makhluk-makhluknya memulai dari penciptaan zat yang paling utama dan paling sempurna. Kualitas dirinya menjadi tidak terbatas karena diciptakan dari  sumber penciptaan dan merupakan ciptaan pertama, kemudian kualitas yang berada di bawahnya yang memiliki kesamaan dengan yang pertama dalam kesempurnaan dan demikian seterusnya sampai pada tingkat yang paling rendah yaitu wujud mumkin yang berada pada batasan aktualisasi potensi menjadi aktual dan memunculkan bentuk-bentuk kehidupan serta memunculkan efek-efek instinktif.
b.      Munculnya efek dari materi (Sudur al-Atsar an al-Ajsam)
Argumentasi ini di dasarkan pada efek yang muncul dari forma-forma materi tanpa adanya intervensi luar maupun keinginan untuk menghadirkannya. Sebagai contoh ; apa yang terjadi pada indra, bahwa indra mempersepsi apa yang ada disekitarnya dengan sendirinya, atau gerakan yang terjadi, perkembangan maupun pertumbuhan atau melahirkan jenis yang semisal dengan dirinya. Bagi Mulla Sadra hal ini tidak mungkin hadir dari materi sekalipun materi pertama, karena materi utama hanyalah sebagai reseptif secara mutlak tanpa adanya kemungkinan baginya untuk melakukan aktivitas apalagi mengeluarkan efek. Karenanya bagi Mulla Sadra efek-efek yang terjadi pada bentuk materi diatas pastilah berasal dari sesuatu yang lain selain dari materi dan itulah jiwa.
c.       Kehidupan adalah Jiwa (al-Hayah hiya al-Nafs)
Argumentasi ketiga yang dikemukakan Mulla Sadra adalah argumentasi kehidupan. Ketika kita menyaksikan berbagai makhluk memiliki indra dan mempersepsi gambaran sesuatu kita mengetahui bahwa makhluk tersebut hidup. Indra dan kemampuan untuk mempersepsi objek berasal di antara tiga kemungkinan : pertama, sumber utama yaitu jiwa. Kedua, fisik yang memiliki jiwa. Ketiga, fisik.
 Substansial Jiwa
            Substansi merupakan gambaran dari sesuatu yang “Jika ada secara eksternal tidak bergantung pada lokus dan tidak membutuhkannya dalam wujudnya. Sedangkan   Aksiden merupakan gambaran dari jika “Ada secara eksternal keberadaannya bergantung pada lokus dan tidak membutuhkannya dalam wujudnya” (Iza wujiddat fi al-Kharij wujidat fi Maudhu’ mustaghni anha fi wujudihi).
Keberadaan substansi adalah keberadaan yang independen dalam pengertian bahwa keberadaannya di luar tidaklah menempel atau bergantung kepada keberadaan yang lain bahkan dirinya menjadi lokus bagi keberadaan aksiden, sedangkan genus yang ada di atasnya adalah sesuatu yang tidak mungkin lagi didefinisikan, substansi merupakan bagian tertinggi dari rangkaian genus yang dapat diketahui. Persoalan kemudian apakah jiwa merupakan substansi ataukah masuk dalam kategori aksiden, jika jiwa masuk dalam kategori aksiden maka ada sesuatu yang lain yang menjadi hakikat diri manusia sebagai lokus bagi raga manusia. Beberapa argumentasi berikut memberikan bukti akan substansial jiwa, diantara argumentasi tersebut antara lain :
a.      Beragam efek yang keluar seperti tumbuh, bergerak dan sebagainya dari beragam makhluk, baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia bukanlah disebabkan oleh sesuatu yang berada diluar dirinya akan tetapi berasal dari diri makhluk tersebut sendiri. Diri yang dimaksud bukanlah raga materi karena jika demikian maka seluruh raga akan mengeluarkan efek eksternal karenanya bahwa sumber efek tersebut tidak lain adalah jiwa.
b.      Mulla Sadra membuktikan substansial jiwa melalui ilmu huduri. Penjelasan tentang hal tersebut sebagai berikut : Persepsi terhadap sesuatu adalah sampainya forma objek pada diri subjek. Jika subjek mempersepsi dirinya sendiri maka pastilah ketika persepsi tersebut terjadi, dia tidak membutuhkan ruang tertentu (sebagai media bagi munculnya diri sebagai objek persepsi) akan tetapi berdiri pada dirinya sendiri. Jika persepsi terjadi pada ruang tertentu maka forma dirinya tidak akan hadir pada dirinya sendiri akan tetapi hadir pada ruang tersebut karena keberadaan objek yang menempati pasti selalu terikat pada ruang yang ditempati dan ini bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan.